BM | EN | 中文

Warung Karaoke, tempat veteran

IMG-20200203-WA0010.jpg

warung karaoke

Advertisement

Kalau lalu jalan Kota Tinggi-Bandar Tenggara waktu malam minggu, pasti kita perasan ada beberapa warung karaoke tepi jalan. Kadang-kadang sunyi sepi, kadang-kadang penuh dengan pengunjung bagaikan pesta.

Singgahlah, nasib baik sambil ‘mengeteh’ dapat kita tengok ‘brader’ nyanyi lagu Widuri, suara sebiji macam Broery Marantika. Kalau tidak berapa baik, anggaplah kita tonton rancangan I Can See Your Voice.

Helmi Ghafur, pelanggan tetap warung karaoke dari Felda Linggiu cakap, 10 tahun dulu jangankan hari minggu, hari-hari warung ini penuh.

Advertisement

“Dulu orang tua datang, orang muda pun datang. Sekarang ada macam krik krik (hambar) sikit. Anak muda dah tak layan karaoke sini,” katanya.

Begitulah hukum alam, manusia dan budayanya berubah apabila persekitarannya berubah. Warung, sebagai budaya makan di Malaysia juga alami perubahannya.

Zack di warungnya

Sejak tahun 1990 hingga 2007, peratusan perempuan menjadi tenaga buruh di Malaysia meningkat 43 hingga 45 peratus setiap tahun. Setiap dua tahun peningkatan tenaga buruh kerja wanita meningkat sekali ganda

Advertisement

Apa maknanya?

Maknanya, ketika Malaysia membangun dengan pesat setelah melalui sektor perindustrian, budaya makan kita berubah. Perempuan mula bekerja menjadikan warung atau perkhidmatan makanan begitu penting.

Warung, café atau restoran merupakan jalan bagi ibu yang keletihan bekerja mengelak dari masuk dapur. Tambahan, dengan bekerja ibu yang dulunya suri rumah kini punya kuasa beli. Tumbuhnya warung dengan pesat membuat persaingan ekonomi semakin sengit.

Advertisement

Bukanlah hipster café yang terawal melihat warung atau café lebih dari sebuah tempat makan. Sederhananya, selain tempat makan warung jadi tempat berkongsi dan bertanding idea. Bukan sedikit juga jadikan warung sebagai tempat uji geliga bermain dam aji, catur atau taiti.

Kemudian, datangnya industri bersama teknologi cakera padat merubah warung sebagai  tempat untuk anak muda sekitar 90an menggilap bakatnya.

“Sebelum anak muda mengenal TikTok, Smule, Bigo sebagai tempat tunjuk ‘bakat’, generasi kita ada warung karaoke untuk anak muda tunjuk bakat”, kata pengusaha warung karaoke, Jekhwan Subeky atau dikenal sebagai Zack.

Advertisement

“Mawi, Wan Scoin dan beberapa penyanyi memang lahir dari karaoke di warung-warung,” katanya lagi.

Sekali air bah, sekali pantai berubah. Kemasukkan internet mengubah ruang ekpresi anak muda. Dari alam nyata ke alam maya. Dengan Tiktok, Bigo, Fblive atau segala macam aplikasi lagi, nyanyi tidak perlu meredah malam menuju ke warung.

Tetapi, bagi yang veteran menyanyi di warung karaoke lebih membuat andrelin mereka laju. Lagi-lagi kalau meja kedai penuh pengunjung.

Advertisement

Johorkini

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

scroll to top